Peneliti:
Aditya Nur Patria dan Sri Andiani
Deskripsi
Penelitian :
Penelitian ini merupakan
analisis media dengan menggunakan metode analisis wacana yang diusung
oleh James Paul Gee. Dalam sebuah teks, bahasa memiliki peran penting dalam
mengkonstruksi citra yang hendak dimunculkan oleh pembuat teks. Selain bahasa,
elemen multimodal seperti gambar, gestur, dan lagu juga berperan dalam
mendukung citra yang dimunculkan.
Dalam talk show Hitam
Putih, hasil analisis aspek naratif dan non naratif menunjukkan bahwa sisi
“transgender” atau gender yang berada di antara laki-laki dan perempuan tidak
menjadi penekanan dalam talk show ini. Talk show ini menekankan bahwa bintang
tamu tersebut adalah seorang wanita, baik dari sisi penampilan maupun
psikologi. Meskipun secara biologis masih laki-laki, bintang tamu dalam talk
show ini direpresentasikan sebagai sosok wanita secara penampilan, psikologis,
maupun sosial. Selain itu, citra transgender disini juga tampak positif dengan
memiliki prestasi-prestasi yang cukup banyak. Di sisi lain, atribut-atribut
ke-wanita-an yang didapat oleh bintang tamu tersebut merupakan dari lahir dan
bukan merupakan rekayasa. Secara keseluruhan, citra-citra tersebut membentuk
sebuah diskursus alternatif tentang transgender yang pada diskursus umum sering
menampilkan transgender sebagai sosok yang negatif.
Namun demikian, pada saat yang sama, tampak melalui
pertanyaan yang disampaikan oleh Deddy Corbuzer bahwa dia masih belum
menganggap Dena sebagai wanita sepenuhnya. Meskipun menampilkan transgender
sebagai sosok yang positif, acara ini juga masih memiliki bias terhadap
heteronormativitas yang berakar kuat dalam masyarakat. Selain itu terdapat
kesan double standard dalam
penerimaan sosial terhadap kaum non-heteroseksual dimana mereka baru diterima
apabila memiliki karya atau sebuah pencapaian. Selain itu, bias kelas juga
muncul dalam acara ini dimana terkesan bahwa kaum non-heteroseksual yang
berasal dari kelas menengah ke atas cenderung lebih mudah diterima daripada
yang bukan dari kelas menengah ke atas.
Review
Penelitian
Analisis discourse pilihan yang pas. Pilihan talk show dan prime time
menjadi menarik untuk memahami bagaimana citra waria dipaparkan. Dena ditampilkan bukan hanya melawan gender tradisional
dengan kaca mata “biasa” – trapped in
man’s body, feel and think as a woman, others treated badly, diejek,
konflik dlm keluarga – dan “tidak biasa” – cerita prestasi dan sukses, diterima
dgn baik oleh keluarga dan teman-teman. Perlu dipertajam masalah: hal-hal yang
normatif masih cukup kuat ditampilkan terkait waria, seperti misalnya waria adalah “perempuan”
baik-baik dengan pendidikan tinggi,
kesuksesan dan segudang prestasi. Selain itu, kewariaan seseorang
tidak melulu bawaan dari lahir melainkan
juga karena pengaruh lingkungan.