StruktuKpengurusan 207-208

10.25

StruktuKpengurusan 207-208

Direktur:                                                                    Dr. N. K. Endah Triwijati, M.A

Pembina:                                                                    Siti Mazdafiah, S.S., M.W.S.

Ketua:                                                                        Nanda Kurniasari

Bendahara:                                                                Risma Putri Pradani

Sekretaris:                                                                  Alicia 

Kadiv. Perlengkapan:                                               Joshua Wibisono

Kadiv. Humas:                                                          Florentia Levina P.

Kadiv. Fund Raising:                                               Yohana Nadeta Desia Chrisma 

Kadiv. Pendidikan Masyarakat & Advokasi:        Hajrah Rizkiyani Masbul

Kadiv. Penelitian:                                                      Karina Angelica

Being a Counselor who Listens & Attends is not Enough

22.27

Being a Counselor who Listens & Attends is not Enough

Oleh : Chrissamary Husodo

Saya mendapatkan banyak insight melalui tiga sesi yang mengajarkan dasar-dasar dari Konseling Feminis. Bila saya menceritakan dengan rinci apa saja yang telah saya dapatkan secara keseluruhan, saya rasa beberapa lembar saja tidak cukup. Jadi, saya akan memaparkan beberapa poin besar yang saya tangkap sebagai highlight (re: pelajaran berharga bagi saya) dari dasar-dasar Konseling Feminis.

Sebelum mendalami Konseling Feminis, salah satu pembicara menjelaskan mengenai teknik-teknik Konseling Dasar secara umum terlebih dahulu. Informasi mengenai hal ini kurang lebih sama dengan pelajaran yang saya peroleh dari perkuliahan saya di Fakultas Psikologi, yaitu konseling berdasarkan paradigma humanistik. Lebih tepatnya adalah client-centered approach yang dicetuskan oleh Carl Rogers. Pendekatan client-centered ini berfokus pada klien, yaitu pentingnya konselor untuk memberikan: 1) empathy yang menunjukkan bahwa konselor dapat memahami sudut pandang klien secara komprehensif, namun tidak sampai ‘terlarut-larut’ ke dalam emosi klien, 2) unconditional positive regard dimana konselor menerima klien apa adanya melalui penghargaan tanpa syarat; tidak memberikan judgement apapun terhadap sikap dan perilaku klien, dan 3) congruence yaitu konselor harus bersikap tulus dan jujur agar dapat menumbuhkan rasa saling percaya dengan klien. Selain itu, keterampilan dasar konseling seperti mindful listening yang mencakup attending dan listening, serta pentingnya untuk melakukan paraphrasing dan membaca bahasa tubuh klien juga dijelaskan.


Refleksi Pelatihan Konseling Feminis Dasar

21.40

Refleksi Pelatihan Konseling Feminis Dasar

Oleh : Albertus Christian

                Embel-embel “feminis” di belakang kata konseling membuat saya tertarik untuk mengikuti acara ini. Apa yang membedakan konseling feminis dari konseling pada umumnya? Pada hari pertama, kami belajar mengenai dasar-dasar dari feminisme yang memang berawal dari tertindasnya perempuan secara struktural oleh laki-laki yang memang mendominasi di atas laki-laki. Dalam melakukan konseling, saya juga mendapatkan perspektif baru mengenai sebuah asumsi dalam melakukan advokasi konseling, yaitu bahwa seorang perempuan dibiasakan untuk menyimpan cerita, entah itu aib keluarga, aib suami atau mengenai dirinya, sehingga ketika ada seorang perempuan yang dating ke kita, maka kita dapat berasumsi bahwa dirinya sedang sangat membutuhkan bantuan.


Cinderella Complex: Dia yang Berharap Pangeran Datang

06.56

Cinderella Complex: Dia yang Berharap Pangeran Datang

Penulis: Annisa Zaenab Nur Fitria

“Aku maunya nikah aja ah, gak mau musingin kuliah kayak gini. Terus musingin kerja gitu?”

“Hmm, udahlah tenang aja, nanti juga bakal datang lelaki yang bakal melamar kamu. Kamu gak usah musingin dirimu sendiri gitu.”

Apa kamu termasuk salah satu yang pernah menyatakan hal seperti di atas? Atau teman-teman perempuan di sekitarmu sering mengemukakannya? Sekilas terdengar layaknya candaan biasa. Namun, siapa sangka itu bisa menjadi salah satu indikasi adanya Cinderella Complex dalam diri kalian?

Istilah Cinderella Complex muncul dalam tulisan College Dowling, dengan buku miliknya yang berjudul “Women’s Hidden Fear of Independence” yang terbit pada Juni 1982. Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa Cinderella Complex sebagai suatu keadaan perempuan yang ditekan rasa ketakutan, lalu berdampak pada menurunnya kemampuan dalam berpikir serta kreativitas mereka. Perempuan yang memiliki Cinderella Complex, mengibaratkan mereka adalah putri pada suatu dongeng yang nantinya akan dilamar oleh lelaki tampan dan mapan. Namun, Cinderella Complex ini menyebabkan perempuan merasa takut dan tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Perempuan dibentuk menjadi sosok yang tidak mandiri dan bergantung pada lelaki yang dianggap sebagai pangerannya. Selain itu, ia menjadi sosok tidak ingin dipusingkan untuk mengurus kehidupannya sendiri.


Pelecehan Seksual di Sekitar Kita

21.40

Pelecehan Seksual di Sekitar Kita

Penulis : Lidia Daisyanti

Saat saya sedang bekerja kelompok bersama teman saya, kami terbahak-bahak dengan pernyataan salah seorang teman laki-laki kami kepada teman laki-laki yang lain, “We, kamu itu cowok tapi kadang kamu kayak cewek”. We hanya tersenyum kecil seakan meng-iya-kan pernyataan tersebut.  Tetapi, sebenarnya ia merasakan sakit hati dari pernyataan temannya tersebut. Perkataan teman kepada W tersebut bisa digolongkan sebagai bentuk pelecehan seksual. 

Berbeda lagi dengan seorang laki-laki yang terkenal feminin tetapi bertindak tidak sopan kepada teman perempuannya (seperti meremas payudara saat di kelas, menyebar foto dengan komentar seksual). Teman yang menjadi korban dan saksi yang melihat perbuatan tersebut hanya tertawa menganggap hal tersebut hanyalah canda belaka. Toh, pelaku tidak tertarik pada perempuan (orientasi seksual pada sesama jenis), jadi hanya dibiarkan saja.


Eksistensi Bromance

00.38

Eksistensi Bromance

Penulis : Frengky Setiawan

“Bromance” merupakan istilah yang jarang diketahui oleh masyarakat. Seringkali masyarakat gagal paham akan apa yang dimaksud dengan bromance itu sendiri. Bromance sesungguhnya adalah hubungan antara dua laki-laki yang memiliki kedekatan, ikatan emosional, serta ikatan cinta yang bersifat persaudaraan. Dengan kata lain, bromance dapat diartikan sebagai hubungan antara dua orang laki-laki yang cukup dalam. Bagi kebudayaan Indonesia, bromance tentu merupakan hal yang tabu karena laki-laki di Indonesia memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan perasaannya terhadap teman sesama jenisnya. Dalam stigma masyarakat bromance memiliki kesamaan dengan gay. Tetapi sesungguhnya kedua istilah tersebut sangat berbeda. Stigma tersebut dapat muncul dikarenakan adanya homophobia dalam masyarakat pada masa kini, secara khusus di Indonesia dimana homosexual saat ini menjadi isu yang sedang hangat diperbincangkan. Namun, kedua istilah tersebut perlu dibedakan.


Prayers for Bobby : A Short Film You Must Know It

05.58

Prayers for Bobby : A Short Film You Must Know It

Penulis : Daniel Wiranata

Kehidupan kita ibarat pelangi yang memiliki warna yang berbeda-beda. Lingkungan di mana kita berada menunjukkan keanekaragaman dari suku, ras, budaya, agama, organisasi, cara pandang, dan masih banyak lainnya. Kata orang, perbedaan itu indah, tapi mungkin tidak berlaku untuk permasalahan LGBT.

LGBT merupakan suatu fakta dan fenomena sosial, di mana keberadaan mereka memang ada dan tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Fenomena ini menuai banyak pro dan kontra yang tak kunjung terselesaikan.  Tahun 2017 permasalahan LGBT ini ramai diperbincangkan dari pemboikotan gerai Starbucks, gempa bumi yang disangkut pautkan dengan maraknya LGBT, hingga putusan MK terkait UU perzinaan. Secara global, pada 26 September 2014, Komisi HAM PBB memutuskan untuk mendukung dan mengakui sepenuhnya HAM kaum LGBT sebagai bagian dari “HAM yang Universal”. Tetapi, di Indonesia sendiri dukungan terhadap kaum LGBT masih dibilang rendah.


STOP PELECEHAN SEKSUAL DI PERGURUAN TINGGI

23.38

STOP PELECEHAN SEKSUAL DI PERGURUAN TINGGI

Seorang teman (laki-laki) pernah bertanya:

X:" Lho kenapa cuma suit2 cewek aja dipermasalahkan? Kan ngga sampe megang?"

A:"Ngga bisa, bagaimanapun itu bikin yang disuitin ngga nyaman kan"

X:"Tapi mereka kan masih normal, suit-suit ke cewek, coba kalau cowok itu kan baru nakutin. Aku bahkan pernah gini (mengisyaratkan pernah melecehkan dengan memegang bagian tubuh wanita tanpa ketahuan)"

Entah dia merasa bangga pernah melakukan hal tersebut atau mau menyampaikan bahwa pelecehan (asal tidak ketahuan) itu normal karena itu insting alamiah lelaki.


KEKERASAN TERHADAP USILA

21.18

KEKERASAN TERHADAP USILA

Kekerasan Terhadap Usila didefinisikan sebagai [1]

Secara umum kkerasan terhadap usila didefinisikan sebagai sebuah tindakan pwngabaian   baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Kekerasan tersebut bisa berupa fisik, psikologis (melibatkan agresi verbal maupun emosional), atau melibatkan maltreatment (salah urus) secara material maupun finansial.

Jenis-jenis Kekerasan terhadap usila:

Kekerasan Fisik  : memukul, memperlakukan secara kasar yang menyakiti fisik. Kekerasan Emosional atau v\Verbal  : melakukan diskriminasi berdasarkan usia, menghina, menyakiti dengan kata-kata, merendahkan, mengintimidasi, menuduh semena-mena, menyebabkan stress dan merendahkan.   Kekerasan Finansial  : menguasai dan mengontrol penghasilan pensiun, mencuri hak milik, mengeksploitasi dan memaksa mereka untuk merawat cucu. Kekerasan Seksual  : hubungan seks sedarah, perkosaan dan kekerasan terkait seks. Pengabaian  : hilang rasa hormat pada orang tua, tidak menunjukkan rasa saying, dan tidak tertarik pada peningkatan kesejahteraan mereka. Accusations of witchcraft – stigmatization and ostracization. Kekerasan Sistem  : perawatan kesehatan bagi usila yang tidak manusia oleh pusat layanan kesehatan, kantor kas negara dan peminggiran usila yang dilakukan oleh pemerintah.             #mazdafiah


DISKURSUS ALTERNATIF TENTANG TRANSGENDER: STUDY KASUS CITRA TRANSGENDER DALAM TALK SHOW "HITAM PUTIH"

    Peneliti: Aditya Nur Patria dan Sri Andiani

Deskripsi Penelitian       :
Penelitian ini merupakan analisis media dengan menggunakan metode analisis wacana yang diusung oleh James Paul Gee. Dalam sebuah teks, bahasa memiliki peran penting dalam mengkonstruksi citra yang hendak dimunculkan oleh pembuat teks. Selain bahasa, elemen multimodal seperti gambar, gestur, dan lagu juga berperan dalam mendukung citra yang dimunculkan.

Dalam talk show Hitam Putih, hasil analisis aspek naratif dan non naratif menunjukkan bahwa sisi “transgender” atau gender yang berada di antara laki-laki dan perempuan tidak menjadi penekanan dalam talk show ini. Talk show ini menekankan bahwa bintang tamu tersebut adalah seorang wanita, baik dari sisi penampilan maupun psikologi. Meskipun secara biologis masih laki-laki, bintang tamu dalam talk show ini direpresentasikan sebagai sosok wanita secara penampilan, psikologis, maupun sosial. Selain itu, citra transgender disini juga tampak positif dengan memiliki prestasi-prestasi yang cukup banyak. Di sisi lain, atribut-atribut ke-wanita-an yang didapat oleh bintang tamu tersebut merupakan dari lahir dan bukan merupakan rekayasa. Secara keseluruhan, citra-citra tersebut membentuk sebuah diskursus alternatif tentang transgender yang pada diskursus umum sering menampilkan transgender sebagai sosok yang negatif.

Namun demikian, pada saat yang sama, tampak melalui pertanyaan yang disampaikan oleh Deddy Corbuzer bahwa dia masih belum menganggap Dena sebagai wanita sepenuhnya. Meskipun menampilkan transgender sebagai sosok yang positif, acara ini juga masih memiliki bias terhadap heteronormativitas yang berakar kuat dalam masyarakat. Selain itu terdapat kesan double standard dalam penerimaan sosial terhadap kaum non-heteroseksual dimana mereka baru diterima apabila memiliki karya atau sebuah pencapaian. Selain itu, bias kelas juga muncul dalam acara ini dimana terkesan bahwa kaum non-heteroseksual yang berasal dari kelas menengah ke atas cenderung lebih mudah diterima daripada yang bukan dari kelas menengah ke atas.

Review Penelitian          

Analisis discourse pilihan yang pas. Pilihan talk show dan prime time menjadi menarik untuk memahami bagaimana citra waria dipaparkan. Dena ditampilkan bukan hanya melawan gender tradisional dengan kaca mata “biasa” – trapped in man’s body, feel and think as a woman, others treated badly, diejek, konflik dlm keluarga – dan “tidak biasa” – cerita prestasi dan sukses, diterima dgn baik oleh keluarga dan teman-teman. Perlu dipertajam masalah: hal-hal yang normatif masih cukup kuat ditampilkan terkait waria, seperti misalnya waria adalah “perempuan”  baik-baik dengan pendidikan tinggi, kesuksesan dan segudang prestasi. Selain itu, kewariaan seseorang tidak melulu bawaan dari lahir melainkan juga karena pengaruh lingkungan.

MENJADI LESBIAN DAN RESPON ORANGTUA: KISAH ISK DAN IDK

04.39

MENJADI LESBIAN DAN RESPON ORANGTUA: KISAH ISK DAN IDK

Peneliti : Adelina Bintang Mahasika dan Atha Bimasika

Deskripsi Penelitian      

Penelitian ini berawal dari ketertarikan peneliti terhadap proses coming out pada lesbian. Alih-alih memotret coming out yang berujung konflik antara anak versus orangtua, penelitian ini melihat bahwa ada orangtua yang menerima keberadaan anaknya sebagai lesbian. Latar belakang penerimaan orangtua didasari pemikiran bahwa keberadaan anaknya sebagai lesbian adalah karena keslahan yang mereka lakukan. Perasaan bersalah ini melahirkan penerimaan yang berujung harapan bahwa anak-anak mereka akan kembali “normal” seperti anak-anak perempuan lainnya.

Keadaan ini rasanya perlu dijawab oleh peran konselor atau psikolog yang mampu meyakinkan mereka bahwa lesbian bukan produk kesalahan orangtuanya, mekainkan semata-mata adalah varian dari keberagaman orientasi seksual.


HOMOSEKSUALITAS DI MATA FUJOSHI DAN FUDANSHI SURABAYA

04.36

HOMOSEKSUALITAS DI MATA FUJOSHI DAN FUDANSHI SURABAYA

Peneliti                                                : Fidy Ramzielah Famiersyah dan Theresia Pratiwi ESS

Deskripsi Penelitian      

Penelitian ini lahir dari maraknya gelombang masuknya anime Jepang. Dalam anime terdapat genre cerita yang bertema homoseksual. Di Indonesia, genre ini juga memiliki penggemarnya sendiri. Apakah anime membantu penggemarnya untuk membentuk sikap toleransi bahkan penerimaan terhadap fenomena homoseksual di dunia nyata atau hanya penerimaan pada batas-batas tertentu?

Metode penelitian adalah FGD dan wawancara bersama. Pada FGD diputarkan scene cuplikan adegan romantis homoseksual dari mulai yang ringan berciuman, petting, hingga berhubungan seks. Analisis dilakukan dengan melihat jarak sosial pada individu dalam menyikapi sesuatu.


PELANGI CANTIK TERTUTUP AWAN KELABU

18.21

PELANGI CANTIK TERTUTUP AWAN KELABU

      Judul Penelitian          : Pelangi Cantik Tertutup Awan Kelabu

Peneliti                        : Livia Nathania Setiawan dan Isa Tridjoyo

Deskripsi penelitian 

Penelitian ini berlatar belakang kepedulian terhadap kurang berkembangnya organisasi lesbian jika dibandingkan dengan organisasi Gay di Surabaya. Organisasi lesbian mengalami patah tumbuh hilang berganti, namun tidak sempat menjadi besar seperti halnya organisasi Gay, meskipun mereka memulai pergerakan secara bersama-sama.   Fokus kajian penelitian ini adalah melihat tantangan yang selama ini dialami organisasi lesbian untuk tumbuh besar dan kuat, serta strategy mereka dalam menghadapi tantangan tersebut.  Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan lesson learnt serta memberikan alternatif masukan bagi kelompok lesbian terkait bentuk dan strategi menghadapi tantangan dalam berorganisasi.


KARENA WARIA INGIN DIMENGERTI

18.15

KARENA WARIA INGIN DIMENGERTI

       Judul Penelitian          : Karena Waria Ingin Dimengerti: Makna Pernikahan bagi Waria

Peneliti                           : Aditya Vonan Mainzerino

Deskripsi Penelitian  :

Penelitian ini  berawal dari keingintahuan peneliti tentang makna pernikahan bagi waria setelah melihat relasi waria dengan pasangannya yang sudah memiliki istri. Adakah keinginan akan pernikahan? Bagaimana mereka mengatasi keinginan tersebut dalam konteks budaya Indonesia? Menggunakan metode study kasus dan mewawancarai 3 waria secara bersama-sama, peneliti melihat dinamika pemaknaan relasi selama wawancara tersebut.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa waria memiliki kesadaran bahwa keinginan akan pernikahan adalah tidak mungkin terwujud. Bentuk relasi dengan pasangan yang sekarang adalah hasil negosiasi antara keinginan dan kenyataan terkait budaya Indonesia yang masih tidak membolehkan keberadaan perkawinan waria di Indonesia. 


YOUNG RESEARCHER COLLABORATIVE RESEARCH (YRCR) PROGRAM

17.51

YOUNG RESEARCHER COLLABORATIVE RESEARCH (YRCR) PROGRAM

Sepuluh peneliti muda YRCR telah bekerja keras untuk menyelesaikan penelitian mereka selama lebih kurang satu tahun. YRCR merupakan program penelitian kolaborasi antara peneliti yang berbasis akademis dan aktivis LGBTIQ tentang topik-topik terkait LGBTIQ dengan perspektif SOGIEB (Sexual Orientation, Gender, Identity, Expression and Behavior).

LATAR BELAKANG PROGRAM

Program ini lahir karena masih banyaknya penelitian mengenai LGBT yang dilakukan oleh kalangan ademisi memiliki bias heteronormativitas, seperti misalnya masih memiliki steretypes yang dilekatkan kepada LGBT seperti abnormal, pendosa dan menular. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut. Pertama, mahasiswa dan supervisornya biasanya masih menggunakan alat ukur dan standard heteroseksual, dan masih mengandalkan konsep akademis yang sudah out of date untuk menjelaskan issu-issu terkait LGBT. Analisis penelitian yang dilakukan pada akhirnya gagal menjelaskan konteks LGBT yang spesifik dan hanya mengkonfirmasi teori-teori mengenai kehidupan LGBTQ yang selama ini ada.  Kedua, kurangnya perspektif SOGIE pada mahasiswa tidak memerhitungkan konteks spesifik LGBT sebagai faktor penting yang membedakan analisis. Ketiga, mahasiswa yang  hampir tidak pernah terlibat atau berinteraksi secara langsung dengan LGBT, mengalami kesulitan memasuki kehidupan LGBT. Enggan dan cemas untuk memasuki kehidupan mereka. Alhasil, analisis penelitian dihasilkan dari pertemuan yang singkat dengan mereka. Untuk kemudian pergi dan tak kembali setelah penelitian usai dan mereka mendapatkan gelar akademis yang mereka inginkan. LGBT hampir-hampir tidak merasakan manfaat atau tindak lanjut dari penelitian tersebut. Keempat, LGBT memiliki kebutuhan untuk menyuarakan kepentingan mereka yang setidaknya bisa dianggap kredible oleh “dunia ilmiah.” Namun demikian, LGBT memiliki keraguan/sakit hati untuk bekerja bersama peneliti non-LGBT atau peneliti dengan background universitas, karena kecurigaan akan dieksploitasi dan hanya menjadi objek penelitian.