Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

TRAINING SEKSUALITAS VI 2015

HOT!!!!
Teman-teman remaja,

Sekali lagi, KSGK bakal mengadakan Training Seksualitas  untuk orang muda.
Kali ini kurikulumnya lebih muda dan lebih fun!

Dalam Training ini kita akan memahami tema besar berikut:
1. Siapa Diri Kita?
2. Bagaimana kita membangun relasi dengan orang lain (orangtua, teman, maupun pacar)?
3. Seksualitas ternyata tidak hanya masalah Seks, tapi juga politik dan budaya. Bagaimana bisa
    demikian?

Berbeda dari training-training sebelumnya, training yang sekarang ditujukan agar kalian bisa sharing dengan adik-adik kalian di SMP maupun SMA setelah training usai.
So, pengetahuan seksualitas ini tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tapi juga berguna bagi orang lain.

Tunggu kabar selanjutnya, yaa....


Yukk!! Ikutan Selfie Narasi!!

Hai Guys!!
Kamu semua suka selfie?
Yuk! Jangan hanya selfie aja, tapi juga ceritakan cerita selfie kamu sama kita dan teman-teman yang lain juga.
Selfie yang bisa kamu ceritakan bisa tentang diri sendiri, kamu dengan sahabat kamu, kamu dengan keluarga kamu, kamu dengan pacar, kamu dengan dosen, kamu dengan binatang peliharaan dan benda kesukaanmu, kmu dengan hobimu, dan kamu dengan sejuta impianmu.
Syaratnya, foto ini harus diambil sendiri sama kamu, dan of course juga harus ada kamunya dongzzz (selfie gitu lhooo...).
Bagi kamu yang mau berbagi dengan kamu, jangan lupa untuk mencantumkan nama, umur, dan alamat email kamu.
Jangan lupa juga untuk follow instagram KSGK di @KSGK_Ubaya dan Add Facebooknya KSGK Ubaya.
Bagi kamu dengan selfie dan cerita selfie terbaik akan mendapatkan hadiah menarik dari KSGK.

YOUNG RESEARCHERS COLLABORATIVE RESEARCH PROGRAM Program Riset Kolaboratif peneliti Muda Surabaya

Kelompok Studi Gender dan Kesehatan (KSGK), Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya bekerja sama dengan HIVOS menyelenggarakan Program Riset Kolaboratif untuk para Peneliti Muda terkait topik
LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Interseks). Aktifitas Program ini meliputi:

1. Tahap Seleksi.
Syarat untuk mengikuti seleksi ini adalah:
• Mahasiswa dari berbagai macam disiplin ilmu sosial dan humanity, atau aktivis organisasi LGBTIQ berusia < 30 tahun,
• Tidak homophobic/transphobic.
• Berdomisili di Surabaya.
• Memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan penelitian
• Bersedia mengikuti proses penelitian mulai dari tahap persiapan hingga pelaporan
• Mengirimkan CV, form pendaftaran yang telah diisi, beserta kartu mahasiswa yang masih aktif, atau pernyataan keanggotaan organisasi terkait, paling lambat 30 Desember 2013 ke ksgk.ubaya@gmail.com. Formulir bisa diperoleh melalui Contact Persons yang tercantum di halaman ini.

2. Workshop SOGI (Sexual Orientation, Gender and Identity).
Sepuluh calon peneliti yang lolos Tahap Seleksi akan mengikuti Workshop SOGI selama 3 hari yang akan diselenggarakan pada bulan Januari 2014. Workshop ini bertujuan untuk mempertajam perspektif peneliti mengenai issu-issu LGBTIQ.

3. Workshop Metodologi dan penulisan proposal Penelitian
Workshop ini berlangsung selama 3 hari, merupakan workshop lanjutan untuk memberikan bekal metodologis dalam melakukan penelitian lapangan. Materi yang disampaikan meliputi Pendekatan Kuantitatif maupun Kualitatif, dengan metode studi deskritif, kajian narrative, etnografi, studi kasus, maupun analisis teks.

4. Penelitian Lapangan
Penelitian akan berupa 5 mini riset yang berdurasi 6 bulan, dilakukan secara bersama-sama (mahasiswa+aktivis), dengan funding maximum sebesar Rp.3.000.000 (tigajuta rupiah) per riset diberikan kepada peneliti untuk mendanai riset lapangan mereka.

Contact Person
Nur Apriyanti 031-729-230-28
Wulan Widaningrum 085-633-850-60

KELOMPOK STUDI GENDER DAN KESEHATAN (KSGK), FAKULTAS PSIKOLOGI, UNIVERSITAS SURABAYA, RUANG PC. 1.2 JL. RAYA KALIRUNGKUT SURABAYA, TELP. 031-298-1143 FAX. 031-298-1271.
WWW.KSGK-UBAYA.BLOGSPOT.COM FACEBOOK: KSGK UBAYA
EMAIL: ksgk.ubaya@gmail.com atau ksgk@ubaya.ac.id

PROGRAM SEKSI DI SMP 1 SURABAYA: WE SHALL RETURN....

Tidak terasa, ngobrol-ngobrol bareng teman-teman SEKSI dari Spensa sudah mencapai sesi akhir. Ketika kami mengabarkan bahwa diskusi dua mingguan untuk semester ini mesti di-paused dulu, salah satu dari mereka menyatakan kekecewaannya dengan wajah lesu: "Lhoooo kenapa gak ada sesi 1 Juni? Kenapa?" rengek Sara.

Kami menjelaskan bahwa untuk sementara, mereka mesti fokus UAS (Ujian Akhir Sekolah) dulu, merefreshkan diri dengan liburan, kemudian belajar cara mendengarkan yang efektif untuk teman yang sedang curhat permasalahan mereka. Menyadari bahwa kami akan kembali, mereka ceria lagi.

Kelekatan antara mahasiswa SEKSI dengan adik-adiknya pun tak kalah mengharukannya, mereka merasa senang berkumpul dengan adik-adik SMP, kangen kalau lama tidak bisa datang dengan berjibunnya tugas-tugas kuliah atau aktivitas lain. "Duuh maaf teman-teman saya gak bisa ikut ke Spensa karena ada pelatihan di Sanggar [unit kegiatan kampus lainnya-red], padahal saya kangen banget sama adek-adek.... Bener lho, Bu... saya kangen mereka. Gak tahu juga kenapa." Demikan kata Rika Wulan Novitaingtyas, mahasiswa angkatan 2010.

Selain kelekatan emosional, ada yang mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan SEKSI bisa menambah kepercayaan diri mereka untuk menghandle forum, berbicara di depan umum, maupun organising aktivitas pelatihan.

Selama kurun waktu Desember 2012-Mei 2013, kegiatan SEKSI dilakukan dengan metode beragam: bermain, berdiskusi, bermain drama sampai nonton bareng. Topiknya pun macam-macam. Dari mulai mengenal diri sebagai tubuh seksual, gender di sekitar kita, membangun kelompok peduli, relasi yang sehat, cinta dan pacaran, keberagaman orientasi seksual, seks dan pornografi, hingga kekerasan dalam pacaran.

Siswa seksi yang pada awalnya berjumlah 20 orang, mengalami penyeleksian alamiah. Hingga akhir kegiatan diskusi, terdapat sepuluh anak yang benar-benar menunjukkan komitmen serius mereka terhadap kegiatan ini. Hal-hal yang ditengarai membuat kegiatan ini memiliki angka drop-out cukup besar adalah sebagai berikut:
  1. Jadwal yang dialokasikan pada Hari Sabtu yang notabene merupakan hari libur dan hari keluarga bagi mereka.
  2. Hari Sabtu juga berarti hari bangun siang, hingga banyak dari mereka yang bangun kesiangan dan kemudian memutuskan untuk tidak datang karena ada perasaan sungkan jika datang terlambat.
  3. Hari Sabtu bagi Spensa adalah hari ekstra kurikuler, sehingga mengharuskan beberapa teman yang aktif untuk kemudian memilih mana yang lebih diberati. Dan kenyataan bahwa kesadaran akan pentingnya pengetahuan seksualitas dan kesehatan reproduksi masih minim, membuat kegiatan ini tidak menjadi prioritas mereka.
Untuk itu alangkah baiknya apabila program-program seperti ini dan program-program pembentukan karakter lainnya, dimasukkan dalam kurikulum sekolah.Pembentukan karakter tak kalah pentingnya dibanding pembentukan intelektual bagi remaja.

Support dari orang tua dan pihak-pihak terkait sangat diperlukan, mengingat sebelumnya, ada beberapa alasan mengapa program ini agak sulit diterima oleh sekolah. Pertama, kegiatan sekolah yang sudah sangat padat sehingga seolah mengalami kesulitan untuk mengalokasikan waktu. Kedua, terbatasnya resource dari pihak sekolah untuk turut mendampingi siswa melakukan kegiatan. Ketiga, sulitnya berargumentasi dengan pihak diknas untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan baru terkait pelaporan di akhir kegiatan.

Untuk itu, kami mengucapkan terimakasih kepada pihak Spensa, atas kesediannya dan keberaniannya
menjadi sekolah rintisan yang peduli kesehatan seksual dan reproduksi siswa. Semoga sesi-sesi berikutnya berjalan lancar dan program ini bisa dilakukan secara berkesinambungan, untuk bisa sustainable dan dilakukan secara mandiri oleh sekolah nantinya.

VIVA KSGK, VIVA SPENSA.... SEKSI!


#mazdafiah

KSGK-SEKSI

KSGK lagi ngapain? Begitu beberapa teman bertanya via pesan di BB messenger, e-mail, maupun inbox FB. Nah, ini dia jawabannya:

KSGK sekarang sedang mencoba membentuk peer group di dua sekolah menengah pertama di Surabaya, yaitu SMP Negeri 1 dan SMP St. Carolus. Dasar pemikirannya seperti ini, remaja lebih nyaman ngobrol kepada temen sebayanya. Apalagi kalau bicara masalah seksualitas. Orangtua, menurut mereka kurang asik diajak ngobrol, menganggap seks sebagai sesuatu yang tdk pantas untuk diomongkan, lebih sering menyalahkan kalo diajak curhat, serta marah-marah terus. 

Sementara orang tua yang sadar bahwa mereka perlu membicarakan masalah seksualitas dengan anak,kebingungan cara dan waktu yang tepat untuk bicara.Mereka pun gak punya pengalaman soal itu. Orangtua-orangtua sebelum mereka juga memiliki pendapat yang sama, bahwa seksualitas tabu untuk dibicarakan dan berharap anak-anak akan "tahu dengan sendirinya." Alhasil, teman-temanlah tempat mereka mencari tahu, padahal pengetahuan teman-temannya relatif sama saja dengan pengetahuan mereka, lebih banyak yang diakses dari video porno, berita TV, majalah, koran yang masih perlu dipertanyakan perspektifnya. Sehingga setiap remaja sebenarnya adalah "konselor" yang lebih dipercaya bagi teman-temannya. Mengapa tidak kita coba menularkan perspektif saja dan membiarkan mekanisme penyebaran informasi dengan cara yang sudah terbentuk di antara mereka?

Dengan dasar pemikiran tersebut KSGK mencoba membentuk program SEKSI (Sekolah Peduli Kesehatan Seksual dan Reproduksi Siswa). dari program ini diharapkan akan ada outcome berupa 20 (duapuluh) siswa SEKSI yang menjadi agen perubahan  di lingkungan sekolah, dengan output berupa guru  dan orangtua yang peduli terhadap Kesehatan Seksual dan Reproduksi Siswa. Prinsip utama yang menjadi dasar program-program KSGK adalah right, respect, dignity, dan equality

Adapun tujuannya adalah membangun rintisisan sekolah yang peduli terhadap kesehatan seksual dan 
reproduksi siswanya. Program ini berdurasi satu tahun, mulai Nopember 2012-Oktober 2013. Aktivitas 
program ini terbagi menjadi tiga jenis kegiatan: pertama adalah penguatan perspektif melalui pelatihan dan 
diskusi rutin, kedua,  peningkatan skill kemampuan mendengarkan untuk menanggapi secara tepat curhatan 
teman serta ketiga, berlatih untuk menyuarakan permasalahan tersebut pada figur otoritas yang berada pada 
support sistem mereka yaitu orangtua dan guru sebagai pembuat kebijakan dan penyedia fasilitas lanjutan. 
Dengan demikian, kepedulian mereka terhadap lingkungan akan terasah sejak dini sekaligus berlatih 
advokasi dengan menyuarakan kepentingan remaja di dekatnya.

Saat ini kita memulai dengan 42 siswa di dua sekolah, diharapkan program ini akan bisa diterapkan di lebih 
banyak sekolah yang ada. Untuk sementara program berjalan, sumber dana dari kegiatan ini adalah
Universitas Surabaya serta Kas Internal KSGK. KSGK membuka kerja sama yang seluas-luasnya
baik berupa penyediaan resource materi maupun non materi dengan pihak-pihak yang memiliki kepedulian 
terhadap permasalahan remaja, institusi pemerintah maupun non pemerintah, dengan prinsip kerjasama yang 
saling menghormati, transparant dan menjunjung tinggi kesetaraan. 

VIVA REMAJA INDONESIA!

#mazdafiah




PERILAKU SEKSUAL REMAJA

TEMPO.CO, Surabaya - Hasil survei yang dilakukan Hotline Pendidikan Surabaya bersama Yayasan Embun Surabaya memperlihatkan perilaku seksual para pelajar sekolah menengah atas dan sederajat di Kota Surabaya semakin memprihatinkan. 

Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap siswa kelas XI SMA, SMK, madrasah aliah dan sekolah Kristen selama Juli-Oktober 2012, diketahui bahwa sebanyak 44 persen pelajar Surabaya berpandangan bahwa dalam berpacaran boleh melakukan hubungan intim dengan pasangannya. 

Selengkapnya silakan baca di:

http://www.tempo.co/read/news/2012/12/30/058451143/Perilaku-Seksual-Siswa-Surabaya-Semakin-Parah